Mengukur Fluktuasi dari Nilai Pertukaran Mata Uang

Kenapa penting?

  • Pertukaran uang selalu berubah
  • Nilai tukar uang yang menurun membuat perusahaan multinasional beresiko rugi.

Relevansi Resiko Nilai Tukar Mata Uang

  1. Argumen dari Investor

Investor bias melindungi diri sendiri dengan berinvestasi di beberapa mata uang

  1. Argumen Diversifikasi Mata Uang

Jika oerushaan multinasional menginvestasikan sebagian dananya, ia akan terlindungi dari resiko perubahan mata uang

  1. Argumen dari Pemangku kepentingan (Stakeholder)

Jika pemangku kepentingan ini berinvestasi sendiri, mereka tidak akan terlalu terdampak dari kerugian perusahaan tersebut terhadap resiko pertukaran mata uang.

 

Bentuk Resiko Nilai Tukar Mata Uang

  1. Resiko Transaksi

Ini berbentuk resiko berubahnya valuta (nilai) mata uang asing, jadi misalnya hari ini 1 USD = Rp 13.350, terus besok ketika si Perusahaan A waktunya dapat bayaran dalam bentuk USD, USDnya justru melemah ke Rp 13.300. Jadi, disini si Perusahaan A mengalami kerugian dalam resiko transaksi masukan.

  1. Resiko Akuntansi

Ini merupakan resiko dalam perbedaannya pelaporan keuangan perusahaan akibat perbedaan format pelaporan dari perusahaan A, B, dan lainnya. Jadi, misalnya kita piker perusahaan A lebih banyak untungnya sedikit dalam setahun daripada perusahaan B. Padahal, sebenarnya itu perusahaan B lebih banyak untungnya jika pelaporannya distandardisasi.

Resiko akuntansi ini bisa terjadi pada:

  1. Perusahaan multinasional
  2. Perusahaan domestic yang punya pinjaman mata uang asing.

 

Mengukur dampak eksposur nilai tukar

Screenshot 2017-11-13 14.35.59

w = proporsi nilai portfolio di mata uang x atau y

σ          = standard deviasi perubahan persentase di currency x atau y

CORR = korelasi koefisien dari perubahan persentasi di currency x atau y

 

  1. Resiko Ekonomi

Ini resiko akibat keadaan ekonomi di Negara dia beroperasi.

Eksposur Portfolio Perusahaan Multinasional

  • Mengukur Volatilitas Mata Uang

Standard deviasi mengukur banyaknya perubahaan tiap mata uang. Makin tinggi nilai standard deviasi, berarti kurensi tersebut lebih sering fluktuasi (kurang stabil). Dari standard deviasi, bisa dilihat kalau trading valuta asing ini lebih sedikit fluktasinya dibandingan dengan saham.

Screenshot 2017-11-13 14.46.14

Standard Deviasi Quarterly periode 2007-2012

 

  • Volatilitas Mata Uang di Periode Tertentu

Sebuah mata uang tidak selalu stabil sepanjang waktu. Ada saat-saat tertentu dimana satu mata uang lebih volatile (kurang stabil) dibanding yang lain.

  • Mengukur Korelasi Mata Uang

Korelasi koefisien ini mengukur pergerakan mata uang terhadap satu sama lain. Misalnya, negative korelasi koefisien antara USD dan IDR berarti mata uang kita bergerak berlawanan dengan USD. Kalau positif korelasi koefisien antara USD dan IDR berarti ketika USD menguat, kita juga cenderung menguat.

 

Perlu diingat ya, bahwa korelasi ini selalu berubah selama sebuah periode, jadi kita gak bisa bikin kalkulasi dengan pasti kalau tahun depan USD dan IDR bakal bergerak berlawanan.

 

Jadi, jika perusahaan A punya pemasukan dari beberapa Negara yang mata uangnya bergerak positif terhadap satu sama lain, dia lebih banyak resiko loh. Misalnya, perusahaan A jual kursi ke China, Jepang, dan Thailand, nah… kalau tiga Negara tersebut gerak mata uangnya sama, terus lagi pada turun terhadap Rupiah, kan pendapatan perusahaan A menurun juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s